Berikutini fakta-fakta menarik tentang pemanasan global warming (pemanasan global): 1. Penyebab Pemanasan Global. Pemanasan global terjadi karena emisi gas karbondioksida dari efek rumah kaca 2 Mencairnya Es di Kutub. Dampak selanjutnya adalah mencairnya es di kutub yang juga berimbas pada keberlangsungan ekosistem. Mencairnya es tersebut mengakibatkan kenaikan air laut yang dapat menenggelamkan daerah-daerah rendah. 3. Kerusakan Ekosistem & Tingginya Tingkat Keasaman Laut Whatis global warming? 2. Is it a severe problem? Why? 3. What kind of text is given above? - Brainly.co.id; 15 Contoh Discussion Text dalam Bahasa Inggris dan Artinya. Contoh Discussion Text Beserta Generic Structure Nya. Mencairnya Es Di Kutub Disinyalir Hasil Dari Global Warming. Dilansirdari Ensiklopedia, mencairnya es di kutub disinyalir hasil dari global warming disebabkan gas buang/emisi industri.hubungan sebab akibat diatas adalah keterkaitan aspek ruang. Itulah tadi jawaban dari pertanyaan tersebut. Semoga membantumu dalam mengerjakan soal-soal. Mencairnyaes di kutub dan berkurangnya air yang menguap ke atmosfir menyebabkan naiknya permukaan laut. Kota-kota dan kota-kota pesisir yang tidak jauh di dekat pantai timur AS, kepulauan pasifik, Teluk Meksiko hanyalah beberapa wilayah di mana kerusakan banjir mulai menenggelamkan beberapa arealnya. Pemanasan global dapat mempengaruhi Zonabeku yang terletak di utara Greenland mengalami penyusutan es secara Saturday,28 Jumadil Awwal 1443 / 01 January 2022 Jadwal Shalat. Mode Layar. Al-Quran Digital Digital Syariah Bisnis Finansial Migas pertanian Global. republikbola. pcgwn. Ada sebagian permukaan Bumi yang dilapisi es dan dianggap sebagai wilayah beku abadi. Namun, sepertinya kondisi tersebut bisa berubah di masa yang akan datang. Pasalnya, perubahan iklim telah mencairkan beberapa bagian es di Bumi. NASA mengungkap bahwa ada 400 miliar ton gletser yang mencair di seluruh dunia sejak 1994 hingga saat lagi, pencairan gletser tersebut belum termasuk lelehan lapisan es yang terjadi di Antarktika dan Arktika. Nah, jika hal ini terus berlangsung, akan ada beberapa kejadian ekstrem di masa depan yang akan berdampak pada dunia. Seperti apa, ya? Yuk, disimak!1. Bumi akan semakin panasIlustrasi mengenai Bumi yang gersang di masa depan. MoshkovskaJika lapisan es terus meleleh, itu menandakan bahwa Bumi sedang mengalami peningkatan suhu. Jika hal ini terus berlangsung, di masa depan, bisa saja Bumi akan semakin hangat dan panas. Laman Center for Climate and Energy Solution menulis fakta bahwa kegiatan manusia membuat Bumi akan semakin hangat dan panas dari waktu ke melelehnya lapisan es di berbagai wilayah Bumi, hal ini juga menandakan bahwa Bumi sedang tidak baik-baik saja. Yup, jika semua lapisan es di Bumi meleleh, itu tandanya manusia akan hidup di tengah alam yang sangat tidak bersahabat. Suhu di Bumi mungkin akan sampai pada titik yang menghancurkan tanaman sumber Habitat di tempat-tempat dingin akan rusak dan musnahHabitat beruang kutub di Arktika. HoskinsJika tidak ada lagi es yang tersisa di wilayah kutub, semua habitat yang ada di sana akan rusak. Saat ini saja, ada begitu banyak bukti bahwa habitat di Kutub Utara dan Selatan Bumi sudah mengalami kerusakan. Beberapa jenis spesies karnivor di sana sudah mulai sulit untuk mendapatkan makanan. Akibatnya, mereka berjalan dan mencari makanan ke tempat-tempat yang sangat dalam National Geographic, beberapa kasus menyedihkan pernah terjadi pada sekelompok beruang kutub. Mereka sangat kelaparan dan tubuhnya sangat kurus akibat tidak adanya sumber makanan melimpah di Arktika. Penyebabnya adalah pencairan es yang sangat cepat dan mengubah ekosistem yang ada. Jika hal ini terus terjadi, akibatnya akan berantai dan keberadaan organisme kutub akan punah. Baca Juga Wajib Tahu! Sains Jawab 8 Pertanyaan tentang Fenomena di Alam Semesta 3. Bumi akan kekurangan cadangan air tawarEs adalah cadangan air tawar di Bumi. Christhope AndreSekitar 71 persen wilayah di Bumi adalah air. Namun, hanya sedikit bagian Bumi yang menyimpan cadangan air tawar bagi kehidupan di dunia. Menurut Badan Reklamasi Amerika Serikat USBR, jumlah air tawar bersih yang ada di Bumi tidak lebih dari 3 persen. Bahkan, sekitar 2,5 persen dari jumlah air tawar yang ada di Bumi masih berupa es dan bisa disimpulkan bahwa es dan gletser yang ada di berbagai wilayah Bumi merupakan cadangan air tawar terbesar. Sayangnya, cadangan tersebut akan hilang jika iklim di Bumi makin tidak bersahabat. Cadangan air tawar yang mencair akan mengalir ke lautan dan manusia akan makin sulit untuk mendapatkan air tawar dari alam mengingat tidak semua wilayah dingin di Bumi punya curah hujan Munculnya virus dan bakteri baru yang mungkin sangat berbahayaLapisan es di wilayah utara. Egil LilandMungkin hal ini akan terdengar seperti cerita-cerita dalam film bertema sains fiksi. Namun, ternyata virus purba yang terperangkap di dalam es pernah diungkap oleh ilmuwan. BBC Earth dalam lamannya mencatat bahwa ada bukti nyata mengenai virus atau bakteri yang tetap hidup di dalam es yang membeku. Pada Agustus 2016, di sudut terpencil Siberia, seorang anak meninggal dan 20 orang lainnya dirawat akibat wilayah tersebut sangat terpencil dan tidak memiliki hewan ternak, rasanya mustahil ada antraks di sana. Namun, tim dokter dan ilmuwan menemukan fakta mengerikan di sana. Ya, setelah dilakukan penyelidikan, wabah lokal yang terjadi disebabkan oleh bangkai rusa yang terperangkap es selama 75 tahun. Pada saat es mencair, bangkai rusa yang terinfeksi antraks tersebut menyebarkan bakteri secara tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika di dalam es yang membeku juga ada virus atau bakteri purba yang bisa menginfeksi manusia secara masif. Secara teori, hal tersebut mungkin sebab virus bisa tidak aktif jika dalam keadaan membeku. Bukan tidak mungkin, dunia akan dilanda wabah mematikan di masa depan yang bahkan mungkin lebih parah ketimbang Banyak daratan di Bumi akan tenggelamPermukaan air laut yang nyaris sama dengan daratan. HoyosDalam lamannya, National Geographic menulis tentang perubahan yang akan dialami Bumi jika semua es di Bumi mencair. Dataran-dataran rendah di dunia jelas akan tenggelam, begitu juga dengan kota-kota yang letaknya tidak begitu tinggi. Perubahan besar terjadi pada tujuh benua yang ada di Bumi. Akan ada banyak wilayah darat yang terendam air dan mungkin akan tenggelam secara yang awalnya cukup tinggi di atas permukaan laut mungkin akan tampak sedikit lebih rendah. Dataran rendah yang kering akan menjadi sebuah danau air asin, bahkan laut yang tidak begitu dalam. Namun, perlu diingat bahwa kalkulasi akan hal ini bisa saja salah mengingat jumlah es di seluruh dunia juga tidak begitu masif. Meskipun begitu, menjaga dan melestarikan alam masih menjadi cara sederhana umat manusia untuk menyelamatkan Bumi dan seluruh lapisan es yang beberapa pembahasan mengenai dampak jika memang suatu saat es di Bumi mencair secara masif dan keseluruhan. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kamu, ya! Baca Juga 6 Fenomena Alam Menarik yang Ada di Kawasan Antarktika IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Ilmuwan, negarawan dan masyarakat Islandia baru-baru ini memasang plakat peringatan di gletser Okjökull yang kehilangan lapisan es dan statusnya sebagai gletser akibat pemanasan global oleh aktivitas manusia. Dalam monumen tersebut tertulis peringatan bahwa dalam 200 tahun mendatang, umat manusia akan menyaksikan gletser-gletser lainnya mengikuti jejak Okjökull. Sebuah plakat diletakkan sebagai peringatan atas hilangnya gletser Okjökull glacier karena perubahan iklim. Rice University, CC BY-SA Indonesia juga memiliki gletser seperti Islandia, yaitu di Pegunungan Jayawijaya. Tidak kurang dari 84,9% dari massa es di Pegunungan Jayawijaya telah mencair sejak tahun 1988, sehingga warisan alam ini pun diprediksi akan hilang dalam dekade mendatang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dampak perubahan iklim oleh emisi gas rumah kaca tidak hanya menyentuh gletser yang hanya ada satu-satunya di Indonesia ini, tetapi juga laut yang luasnya meliputi 70% dari wilayah Indonesia dan kedalamannya melebihi ketinggian Puncak Jaya. Baru-baru ini panel ilmuwan PBB untuk isu perubahan iklim atau IPCC Intergovernmental Panel on Climate Change merilis Special Report on Ocean and Cryosphere in a Changing_Climate SROCC, kajian terkait dengan kondisi laut dan kriosfer gletser, lapisan es, dsb di dunia. Saat ini saya terlibat dalam penulisan laporan iklim PBB mendatang atau Sixth Asessment Report untuk aspek kelautan, kriosfer dan kenaikan permukaan laut. Berikut penjelasan saya terkait hasil-hasil kajian SROCC yang perlu menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Laut semakin panas, semakin asam, dan semakin berkurang kadar oksigennya Sejumlah 104 pakar iklim dari 36 negara mengkaji status dan proyeksi dampak perubahan iklim terhadap laut dan kriosfer serta implikasinya bagi ekosistem dan manusia berdasarkan publikasi ilmiah. Hasil penelitian para ahli iklim mengungkap bahwa mencairnya lapisan es yang bermuara pada naiknya permukaan laut secara global merupakan satu dari beberapa efek domino dari perubahan iklim. Laporan IPCC menunjukkan, secara persisten, perubahan iklim menyebabkan laut semakin panas, semakin asam dan kekurangan kadar oksigen. Kenaikan permukaan laut yang berpotensi menenggelamkan pulau-pulau kecil tidak hanya terus terjadi, namun lajunya juga semakin cepat. Fenomena iklim esktrem seperti gelombang panas laut marine heatwave akan semakin sering terjadi dengan intensitas dan durasi yang meningkat terutama di daerah tropis. Begitu pula dengan fenomena ekstrem El Niño-Osilasi Selatan yang membawa bencana kekeringan dan banjir di Indonesia. Read more Indonesia perlu lebih banyak penelitian dampak sampah plastik di laut Dampak bagi Indonesia Sumber daya laut yang tergeser, tertekan dan berkurang Laporan SROCC mengisyaratkan beberapa catatan penting terkait dampak perubahan iklim bagi Indonesia sebagai negara kepulauan di kawasan tropis. Pertama, keanekaragaman hayati laut menjadi taruhan. Perubahan iklim turut mengubah ritme musiman dan distribusi spesies laut. Sejak tahun 1950an, secara global, spesies laut yang biasa hidup di kedalaman kurang dari 200 meter berpindah menjauhi kawasan tropis sejauh kurang lebih 52 kilometer per dekade. Hal serupa juga terjadi pada spesies-spesies laut dalam. Mengingat beragamnya spesies laut di Indonesia, maka perlu ada penelitian lebih lanjut tentang ritme musiman dan distribusi tersebut. Kedua, laporan SROCC menekankan bahwa terumbu karang merupakan ekosistem laut yang paling sensitif dibandingkan dengan ekosistem lainnya seperti padang lamun dan mangrove. Kondisi ini berpengaruh bagi Indonesia yang memiliki padang lamun terluas di Asia Tenggara dan 23% mangrove di dunia. Menurunnya jasa ekosistem lamun dan mangrove dapat mengurangi peran ekosistem laut pesisir dalam menyerap emisi karbon. Ketiga, pemanasan laut dapat menambah beban sektor perikanan dalam menghadapi isu overfishing dengan menekan potensi tangkapan ikan maksimal hingga sekitar 30% di perairan Indonesia apabila emisi gas rumah kaca dibiarkan meningkat sepanjang abad 21. Kombinasi antara pemanasan dan pengasaman laut juga berdampak negatif pada stok ikan dan binatang bercangkang, seperti kerang mutiara dan lobster. Tidak semua salah perubahan pada iklim Untuk dapat mengambil langkah adaptasi yang efektif, kita perlu memahami berbagai penyebab degradasi lingkungan laut yang tidak selalu disebabkan oleh perubahan iklim. Salah satu contoh klasik adalah kenaikan permukaan laut di Jakarta yang lebih banyak disebabkan oleh penurunan permukaan tanah karena penyedotan air tanah. Contoh lainnya, SROCC membedakan fenomena pengasaman atau penurunan pH air laut antara pengasaman laut ocean acidification dan pengasaman pesisir coastal acidification. Pengasaman laut merujuk kepada penurunan tingkat keasaman air laut akibat reaksi antara gas rumah kaca CO2 dan air laut. Namun, di kawasan perairan Indonesia juga terjadi pengasaman pesisir oleh aktivitas lokal manusia seperti pembuangan limbah, sehingga laju pengasaman air laut lebih tinggi dari tren global. Solusi-solusi lokal seperti penanggulangan limbah yang efektif dan restorasi ekosistem lamun yang mempengaruhi pH air laut secara lokal dapat mengurangi dampak dari pengasaman air laut bagi masyarakat sekitar. Read more Kisah para pahlawan pesisir Indonesia dari merusak menjadi melindungi SROCC dan negosiasi iklim SROCC menjadi masukan ilmiah penting bagi negosiasi iklim dalam UN Framework Convention on Climate Change Conference COP25 di Chile pada bulan Desember 2019 yang akan mengangkat tema kelautan atau Blue COP’. Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki peran penting dalam mengambil langkah yang konkret dan realistis terhadap isu perubahan iklim. Dalam laporan SROCC dipaparkan juga keuntungan yang diraih dari strategi adaptasi perubahan iklim yang ambisius dan efektif, seperti perlindungan terhadap masyarakat pesisir terutama daerah padat populasi atas dampak naiknya permukaan laut, yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan. Berbeda dengan daratan yang menjadi penyebab dan korban dari perubahan iklim, SROCC memaparkan bahwa laut adalah korban dari perubahan iklim. Kondisi laut yang semakin panas, asam dan kekurangan kadar oksigen memiliki implikasi bagi komitmen Indonesia dalam perlindungan keanekaragaman hayati maupun pemenuhan target Sustainable Development Goals. Hal ini karena menurunnya kemampuan menjaga biodiversitas laut dari berbagai tekanan lingkungan, potensi mitigasi gas rumah kaca dari sektor kelautan, dan pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan. Kajian ilmiah yang tertuang dalam SROCC, Blue COP serta UN Decade of Ocean Science 2021-2030 adalah momentum untuk melakukan langkah-langkah non business-as-usual dan inklusif yang akan diapresiasi oleh generasi mendatang. Ilustrasi pemanasan global. Foto PixabayPemanasan global menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup di bumi. Fenomena yang juga disebut global warming ini adalah suatu bentuk ketidakseimbangan ekosistem akibat peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan di bumi. Peningatan suhu ini disebabkan oleh bertambahnya kadar gas rumah kaca yakni karbondioksida CO2, nitrogen dioksida N2O, metana CH4, dan freon SF6, HFC dan PFC. Gas-gas ini memang secara alamiah dihasilkan oleh aktivitas makhluk hidup sehari-hari. Namun gas-gas ini meningkat secara drastis karena semakin majunya industri. Kondisi ini tentu berdampak pada kehidupan di bumi. Apa saja dampak pemanasan global? Mencairnya Lapisan Es di Kutub Utara dan SelatanSalju di Antartika yang meleleh akibat pemanasan global. Foto Johan OrdonezMeningkatnya suhu menyebabkan lapisan es di kutub meleleh. Para ilmuwan di Inggris menyatakan bahwa sebanyak 28 triliun ton lapisan es di bumi telah hilang dalam 30 tahun terakhir. Jika ini terus terjadi maka permukaan air laut akan naik secara global. Masyarakat yang hidup di pesisir terancam oleh banjir rob, sedangkan pulau-pulau kecil bisa tenggelam. KekeringanNaiknya suhu menyebabkan peningkatan penguapan air. Penguapan skala besar inilah yang menjadi penyebab utama kekeringan di banyak tempat. Akibat penguapan, banyak sumber mata air yang kering. Kekeringan juga menyebabkan meningkatnya kebakaran hutan. Rusaknya Terumbu KarangGlobal warming akan membuat suhu air laut meningkat. Ini membuat terumbu karang mengalami pemutihan dan lama-lama menjadi rusak. Rusaknya terumbu karang akan membuat ekosistem laut menjadi tidak seimbang. Punahnya Berbagai Jenis Flora dan FaunaIlustrasi beruang kutub. Foto ShutterstockLingkungan yang berubah akibat pemanasan global tentu memengaruhi eksistensi hewan dan tumbuhan. Fauna yang hidup di kutub seperti penguin dan beruang kutub terancam kehilangan habitatnya. Kenaikan suhu global juga menyebabkan terganggunya siklus air dan kelembaban udara yang berdampak pada pertumbuhan tanaman. Menurut sebuah penelitian dari Universitas Arizona, satu dari tiga spesies tumbuhan dan hewan akan punah pada 2070. KelaparanPerubahan iklim menyebabkan musim sulit diprediksi. Akibatnya musim tanam menjadi tidak menentu. Ini tentu berdampak pada produksi pangan penduduk. Melansir dari situs Balai Penelitian Lingkungan Pertanian, Indonesia dihantam anomali iklim berupa el nino parah pada 1998. Saat itu Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Jawa, dan Indonesia timur mengalami kekeringan di luar musim kemarau. Kekeringan tersebut menyebabkan penurunan produksi dan kegagalan panen tanaman pangan seperti padi dan palawija, serta krisis air bersih. Lucezn/Getty Images/iStockphoto Penjabaran tentang bahaya salinitas air laut yang bisa menyebabkan matinya beberapa arus laut utama. satu ancaman terbesar dalam perubahan iklim dan peningkatan suhu rata-rata dunia adalah mencairnya es di kutub. Saat suhu rata-rata meningkat di seluruh dunia dan Bumi menjadi semakin panas, jelas bahwa lapisan es raksasa akan mulai mencair seperti yang sudah terjadi. Lalu, air dari semua pencairan itu akan bergabung dengan perairan lautan dunia. Apa yang terjadi ketika kita menambahkan air ke larutan air garam? Air tersebut menjadi kurang asin, kan? Air laut itu asin, jadi apa yang akan terjadi jika tiba-tiba mendapat pasokan air tawar yang sangat besar yaitu, air yang tidak asin? Apakah akan menjadi kurang asin? Ternyata, jawaban dan konsekuensinya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mari, mari kita bahas beberapa perkara mendasar. Baca Juga Virus Kuno Tahun Diidentifikasi di Gletser Tibet yang Mencair Salinitas Air Salinitas, secara sederhana, mengacu pada kandungan garam terlarut dari dalam air. Seperti yang dapat kita bayangkan, salinitas air laut memainkan peran penting dalam menentukan jenis organisme yang dapat berkembang di dalamnya. Salinitas air laut juga memainkan peran penting dalam sirkulasi laut dan siklus air. Salinitas air laut tergantung pada beberapa faktor, termasuk penguapan, curah hujan, angin, aliran air sungai dan pencairan gletser. Untuk ruang lingkup artikel ini, kita hanya akan membahas faktor terakhir. Baca Juga Gletser yang Mencair Ternyata Berisi Kotak Kayu Berusia Berabad-abad Dampak Pemanasan Global Bisa ditebak, pemanasan permukaan bumi mengakibatkan mencairnya lapisan es kutub di Antarktika dan wilayah kutub lainnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa es Laut Arktik mencair lebih cepat dari yang diperkirakan. Ini karena Bumi terus memanas akibat pemanasan global dan es Kutub Utara mencair, masuknya air tawar dari es yang mencair mengubah salinitas air laut, terutama di dataran tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika salinitas semua lautan di dunia menurun akibat mencairnya es di kutub. Samudra Atlantik, khususnya, telah mengalami perubahan salinitas air yang cukup signifikan selama empat dekade terakhir. Jadi, untuk menjawab pertanyaan kita, ya, mencairnya es di kutub membuat air kurang asin, tapi itu bukan jawaban lengkapnya. Anda tahu, masuknya air tawar yang meningkat ke air laut memang membuat air laut kurang asin, tetapi tidak seperti yang Anda kira. Baca Juga Gletser yang Mencair Ternyata Berisi Kotak Kayu Berusia Berabad-abad Florian Ledoux Seekor beruang kutub menyeberangi lapisan es di Arctic Bay, Nunavut, Kanada. Ketika es mencair, keseimbangan ekosistem di kutub-kutub Bumi pun bergejolak. Apa glasiasi berdampak pada salinitas lautan dunia ? Lautan adalah perairan yang sangat luas. Air yang dikandung badan air ini memiliki 'jenis' yang berbeda. Dengan kata lain, dibutuhkan sejumlah besar energi untuk mencampur massa air dengan sifat yang berbeda. Hasil langsung dari ini adalah, alih-alih seluruh lautan mengurangi rasa asinnya, arus laut tertentu mengambil pukulan terbesar yaitu, salinitasnya yang paling terpengaruh. Arus Laut Arus laut adalah gerakan air laut yang terarah dan terus-menerus yang disebabkan oleh gaya-gaya tertentu. Air laut selalu bergerak, dan arus laut adalah pergerakan air yang terjadi baik di permukaan laut maupun di kedalamannya, baik secara lokal maupun global. Arus laut digerakan oleh faktor-faktor seperti kepadatan air, angin, pasang surut, dan lain lain. Arus laut sangat penting, terutama bagi kehidupan laut, karena banyak organisme air dengan mobilitas terbatas mengandalkan arus laut ini untuk membawa makanan dan nutrisi penting ke mereka. Tidak hanya itu, arus laut juga mendistribusikan larva dan sel reproduksi di antara makhluk laut. Dengan demikian, glasiasi pencairan lapisan es, sebagian menghentikan pertukaran garam, energi, dan panas antara laut dalam dan permukaan laut, yang hanya menyisakan sumber turbulensi yang didorong oleh pasang surut dan topografi, akan membantu kedua lapisan ini 'berkomunikasi'. Baca Juga Es Antarktika Mencair, Kuburan Mumi Penguin Terungkap Dampak Buruk Salinitas Air Bagi Air Laut Masuknya air tawar dalam jumlah besar sebagai akibat dari pencairan lapisan es dapat mengubah atau bahkan berpotensi mematikan beberapa arus laut utama. Seperti dibahas sebelumnya, arus laut ini benar-benar sangat penting. Arus tidak hanya mendistribusikan makanan dan sel reproduksi ke ikan yang jauh, tetapi juga menjaga lautan tetap teroksigenasi sehingga hewan laut dapat bertahan hidup di dalamnya. Setiap dampak negatif pada arus laut ini dapat secara serius mengganggu rantai makanan di lautan. Tentu memiliki konsekuensi pada rantai makanan, termasuk manusia. Jadi, ya, mencairnya es pasti mengurangi salinitas lautan walaupun tidak merata, dan pencairan ini jauh lebih berbahaya bagi manusia daripada yang diperkirakan banyak orang. Baca Juga Gunung Es Seluas Pulau Bali dan Seberat 1 Triliun Ton Mencair Hilang PROMOTED CONTENT Video Pilihan Jakarta, CNN Indonesia - Bumi secara keseluruhan telah kehilangan 28 triliun ton es di kutub antara tahun 1994 dan tahun 2017. Namun studi mencatat, sejak tahun 1990 Bumi hanya kehilangan sekitar 800 miliar metrik ton es dari setiap studi yang diterbitkan di jurnal The Cryosphere mencatat es yang mencair di seluruh dunia selama beberapa dekade sangat mencolok. Es terus menghilang di sebagian besar wilayah Bumi, yang disebabkan oleh perubahan iklim. Suhu udara yang meningkat mengakibatkan gletser gunung menyusut dari Pegunungan Alpen Eropa, pegunungan Himalaya di Asia hingga Andes di Amerika tersebut menunjukkan bahwa gletser gunung di seluruh dunia telah kehilangan hampir 10 triliun ton es sejak 1960 dengan penurunan yang es Greenland dan Antartika juga telah mencair dalam jumlah besar. Sejak 1990-an, Antartika telah kehilangan 2,6 triliun ton dan di Greenland telah kehilangan hampir 4 triliun ton Antartika, sebagian besar es mencair berasal dari gletser yang merusak laut, atau gletser yang kembali ke laut. Studi terbaru menemukan bahwa arus air laut yang hangat menyebabkan gletser mencair dan membuat es bergeser ke ilmuwan masih menyelidiki sumber air hangat yang ada di Antartika, namun beberapa ahli percaya bahwa perubahan iklim menjadi pemicu es di Antartika perlahan mencair, melansir Scientific American. Di Greenland, fenomena yang sama juga tengah berlangsung. Namun pencairan di Greenland berasal dari cairnya es pada permukaan, atau es yang mencair di lapisan teratas. Suhu panas yang meningkat, memicu cairnya es yang ada di wilayah gletser gunung dan lapisan es merupakan penyumbang naiknya permukaan laut secara global. Sebuah studi baru memperkirakan telah terjadi kenaikan permukaan permukaan laut sebanyak 34 milimeter sejak tahun India Today, Para peneliti mencatat bahwa cairnya es di seluruh dunia memicu naiknya permukaan laut yang meningkatkan risiko banjir di masyarakat pesisir."Meskipun setiap wilayah yang kami pelajari kehilangan es, kerugian dari lapisan es Antartika dan Greenland paling cepat terjadi," kata Thomas Slater, Peneliti di Universitas Leeds, itu, peneliti juga menemukan kenaikan suhu di atmosfer dan lautan masing masing sebesar 0,26 dan 0,12 derajat Celcius tiap dekade sejak dingin merupakan habitat penting bagi satwa liar, termasuk beruang kutub dan dan mamalia laut es memiliki permukaan terang yang membantu dapat memantulkan panas dari sinar Matahari. Banyak ahli percaya bahwa menyusutnya es laut telah mempercepat laju pemanasan di Kutub Utara. Saat ini suhu di sana naik dua kali lipat dari biasanya. can/DAL [GambasVideo CNN]

mencairnya es di kutub disinyalir hasil dari global warming