Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti.". Rabiah Al-Adawiyah tidak meniatkan ibadahnya sebagai bekal kebaikan untuk meraih surga dan berlindung dari siksa neraka. Ia memaknai praktik shalat, puasa, zakat, haji, dan ragam ibadah lainnya sebagai bentuk cintanya kepada Allah.
Rabiah Al-Adawiyah lahir pada akhir abad ke-8 di desa kecil di Basra, Irak. Kehidupannya sangat sederhana dan terbatas, di antara halangan dan kendala dari keluarganya yang miskin. Karena kedua orang tuanya telah meninggal pada saat dia masih sangat muda, membuatnya harus hidup dengan saudara-saudaranya yang juga miskin.
Since her early childhood Rabia al-Adawiyya, may Allah be pleased with her, was always alone; sadness and grief surrounded her and lived inside her. Above all, when she was only a young girl, she tasted the bitterness of being an orphan. Her father, the slave, died, and his wife followed him soon afterwards.
26 `Abd al-Mun`im Qindil (1997), Rabi`ah al-Adawiyah Dan Cinta, (trj.) Mohd . Sofwan Amrullah dan Mohd Royhan Hasbullah, Kuala Lumpur: Pustaka Syuhada, h. 95.
Basrah-Irak, yaitu Rabi'ah al-Adawiyah. Ia memunculkan ajaran cinta kepada Tuhan (Hubb Allah). Di abad . ini tasawuf tidak banyak perbedaan dengan abad sebelumnya, masih bercorak kezuhudan.
Tampilnya Rabi'ah al-Adawiyah dalam sejarah Islam memberikan citra tersendiri dalam menyetarakan gender pada dataran spritual Islam. Buku ini berisikan ajaran-ajaran Rabi'ah tentang tobat, ajaran kesabaran, ajaran bersyukur, ajaran mengharap ridha Allah, ajaran rasa takut kepada Allah, ajaran kerelaan hati, ajaran cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan dunia, ajaran tauhid, ajaran
Rm9N.
rabi ah al adawiyah quotes